Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un -Telah Wafat KH Sahal Mahfuzh Kajen Pati Jawa Tengah (Rois 'Aam PBNU dan Ketua Umum MUI- lahul fatihah

Minggu, 31 Juli 2011

TUDINGAN BID'AH YANG SEBENARNYA MENGABAIKAN HADITS NABI SAW.

Bid'ah ditakuti oleh semua kaum muslimin. Jelas pada hadits Rosulullah s.a.w. bahwa bid'ah itu ditolak, sesat dan pelakunya masuk neraka.

Karena beratnya bid'ah tersebut, maka perlulah amat berhati-hati saat menyatakan sesuatu itu bid'ah. Jangan-jangan bukan bid'ah, tapi kita belum paham sehingga menganggapnya bid'ah. Jangan-jangan saat kita katakan bid'ah, hal itu malah tanda kita berlebihan dalam beragama.

Mari kita lakukan studi kasus.

Di antara yang kita dengar adalah cap bid'ah yang dilekatkan oleh komunitas tertentu umat Islam terhadap shalat tarawih 20 raka'at dan adzan jum'at dua kali.

Benarkah itu bid'ah ?

Mari kita telusuri.

Katakanlah bila tarawih 20 raka'at dan adzan jum'at 2 kali adalah benar-benar bid'ah, maka para pelakunya disebut mubdtadi'ah atau ahli bid'ah. Para ahli bid'ah ini masuk diancam neraka dan mereka termasuk orang fasiq yang riwayatnya tidak dapat diterima sebagai sanad sohih.

Bila demikian, gara-gara fatwa shalat tarawih 20 raka'at dan adzan jum'at 2 kali itu bidah, akan kita temukan di antaranya dua masalah :

1. Para shahabat, tabi'in dan tabi'it tabi'in adalah ahli bid'ah, karena jelas sekali riwayat yang menyatakan bahwa beliau semua melakukan tarawih 20 roka'at dan adzan jum'at 2 kali. Dengan itu, beliau semua terancam sebagai ahli neraka.

2. Para sahabat, tabi'in dan tabi't tabi'in menjadi berstatus pendurhaka dan riwayatnya tidak diterima. Bila sanad sebuah hadits melewati beliau maka hadits itu menjadi dho'if.

Hal ini jelas akan membuat seluruh hadits menjadi dho'if. Bukankah tidak ada hadits yang tidak diriwayatkan melalui sahabat, tabi'in dan tabi'it tabi'in.

Dalam ilmu rijalul hadits gugurlah kaidah bahwa seluruh sahabat dipandang adil (terpercaya). Bukankah karena fatwa itu para sahabat menjadi termasuk ahli bid'ah, karena melaksanakan perbuatan bid'ah.

Gara-gara ini, maka bisa dikatakan seluruh ajaran islam dho'if karena diriwayatkan melalui para sahabat, tabi'in dan tabi'it tabi'in.

Hal tersebut jelas bertentangan dan mengabaikan hadits-hadits Rosulullah s.a.w. berkaitan dengan kedudukan para sahabat dan tabi'in serta tabi'it tabi'in.
Sahabat, tabi'in dan tabi'it tabi'in adalah tiga generasi awal umat Islam yang disebut salaf shalih yang berada pada jaminan Rosululloh s.a.w. Bahkan sebagian sahabat tersebut dijamin ahli surga.

Selain itu, hadits-hadits Rosulullah s.a.w. pun menunjukkan bahwa para sahabat adalah kelompok yang harus diikuti. Hal ini sangat logis, karena para sahabatlah orang-orang yang langsung belajar kepada Rosululloh s.a.w.

Dengan demikian, fatwa tarawih 20 raka'at dan adzan jum'at 2 kali adalah bid'ah merupakan fatwa yang secara tidak langsung sedangkan mengabaikan hadits-hadits Rosulullah. Secara tidak langsung, fatwa tersebut pun sedang menghancurkan sendi-sendi ke-Islaman.

Selain itu, fatwa tersebut telah mengabaikan logika bahwa para sahabat lebih tahu dari generasi selanjutnya, karena belajar langsung dari Rosulullah s.a.w.

Bila efek tidak langsung ini diingkari oleh para pemberi fatwa tersebut, maka nampaknya mereka tidak konsisten dalam berpikir dan berfatwa serta tidak komprehensif dalam memahami agama.

Ketidakkonsistenan dan ketidakkomprehensifan itu menempatkan mereka tidak dapat dijadikan rujukan, sehingga fatwa mereka pun tidak bisa dipegang. Bila demikian, maka fatwa bahwa tarawih 20 raka'at dan adzan jum'at 2 kali adalah bid'ah, tidak dapat dipegang dan tidak dapat dijadikan rujukan.

Hmmmmm.....gimana ya ????

Mari kita berpikir ulang !!!!!

Mari kita lebih kritis, lebih konsisten dan lebih komprehensif!!!!
Selengkapnya...

Kamis, 17 Maret 2011

AGAMA (DIN) VS BID'AH

Pemahaman tentang apa itu agama menjadi suatu yang penting untuk sebagai dasar untuk memahami tuntunan derivasi dalam agama. Pemahaman mengenai ruang lingkup tentang agama menjadikan ketentuan-ketentuan dalam agama menjadi jelas.

Dalam diskursus yang lebih banyak diamini saat ini, agama (din) adalah sistem yang merupakan ketentuan Allah yang mencakup segala aspek dalam kehidupan.

Pemahaman ini biasanya dihadapkan berlawanan dengan pemahaman pemisahan antara agama dengan masalah-masalah duniawi. Memisahkan agama dan dunia dipandang sebagai paham sekuler dan tidak benar.

Di bawah pemahaman ini ada masalah bid'ah. Bid'ah adalah sesuatu yang tidak dilakukan oleh Rosululloh. Dalam hukumnya ada dua pendapat.

Pendapat pertama mengatakan bahwa semua yang tidak dilakukan oleh Rosulullah adalah sesat. Bila pendapat ini dikritik dengan mengatakan tentang tekhnologi dan lainnya, mereka menjawab bahwa bid'ah hanya dalam masalah agama bukan masalah dunia.

Jawaban itu bertemu dengan pemaknaan tentang agama. Bila agama dipandang mencakup segala aspek kehidupan, maka tekhnologi termasuk di dalam agama. Dengan demikian, menurut pemahaman ini inovasi tekhnologi yang tidak dilakukan Rosululloh termasuk sesat.

Bila kemudian tekhnologi dan masalah keduniaan lain dikeluarkan dari dalam makna agama dan memaknakan agama sebatas ritual, maka pendapat ini telah mengikuti paham sekuler yang memisahkan agama dan dunia.

Dengan demikian, paham yang mengatakan bahwa semua bid'ah dalam agama sesat dan memaknakan agama sebatas ritual, termasuk mereka yang mengikuti paham sekuler.

Pemahaman kedua mengatakan bahwa bid'ah ada yang sesat dan ada yang tidak. Yang sesat bukan semata tidak dilakukan oleh Rosululloh saw, tetapi yang bertentangan dengan prinsip-prinsip ajaran Rosululloh saw. Sedangkan yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip ajaran Rosululloh tidak sesat. Pemahaman ini mengenal ada bid'ah hasanah (baik) dan bid'ah sayyi'ah/qobihah (sesat).

Bila dikaitkan dengan pemahaman bahwa agama mencakup segala sesuatu, maka pemahaman kedua menempatkan apapun termasuk inovasi tekhnologi selama tidak bertentangan dengan prinsip ajaran Rosululloh saw sebagai bid'ah hasanah.

Pendapat ini tidak membuat pemisahan antara agama sebagai ritual dan dunia, sehingga tidak masuk ke pemahaman sekuler.

Bila demkian adanya, bagaimana ya...?

Demikian pula dengan masalah-masalah lain. Tinggal bagaimana mencermati dan memaknakannya.

wallohu a'lam

Selengkapnya...

Rabu, 22 Desember 2010

MENGABAIKAN HADITS DO'IF MELANGGAR AL-QURAN

Hadits itu do'if, tidak bisa dipakai.
Hadits itu do'if, tidak diterima.
Hadits itu do'if tidak dipergunakan sebagai dalil.
Dalilnya hadits do'if, jadi tidak benar.
Dalilnya do'if, jadi bid'ah.

Ungkapan-ungkapan itu mungkin pernah kita terima dalam pembelajaran agama di kehidupan kita. Tapi benarkah ungkapan seperti itu ? Mari kita cek kebenaran ungkapan tersebut.

Hadits do'if biasanya dihadapkan secara berlawanan dengan hadits sohih. Hadits sohih dianggap benar dan hadits do'if dianggap salah.

Dalam masalah ini kita perlu memahami lebih mendalam penamaan derajat hadits dalam ilmu mustolah hadits. Bila kita terjemahkan, sohih artinya benar sedangkan do'if artinya lemah.

Sohih (benar) secara logika harusnya berlawanan dengan salah, bukan dengan do'if (lemah). Do'if (lemah) berlawanan dengan kuat bukan dengan sohih (benar).

Dengan memahami arti sohih dan do'if, dapat dipahami bahwa sohih dan do'if bukanlah berlawanan. Jadi perlu betul-betul dipahami bahwa do'if bukanlah salah.

Mengapa dikatakan s do'if (lemah) bukan salah ?

Sebuah hadits dikatakan do'if adalah karena diriwayatkan oleh orang yang fasiq (durhaka). Di antara kefasiqan itu adalah dia diketahui pernah atau suka berbohong. Jadi yang dinilai untuk menentukan do;if atau sohih adalah siapa yang meriwayatkan haditsnya, bukan isi haditsnya.

Pertanyaannya adalah apakah orang yang pernah atau suka berbohong pasti sama sekali tidak pernah berkata benar ? Apakah isi perkataan orang yang diketahui suka berbohong pasti selalu salah dan tidak ada yang benar walau satu kali atau sedikitpun ?

Kita ukur dengan diri kita saja. Apakah kita sendiri belum pernah berbohong satu kali pun ? Apakah kita belum pernah berkata benar satu kali pun ?

Nah, orang yang suka atau pernah berbohong mungkin saja suatu kali atau suatu saat dia berkata benar. Dan sangat mungkin bahwa dia berkata benar saat menyampaikan hadits tersebut.

Dengan demikian, dapat kita pahami bahwa hadits do'if pun mempunyai kemungkinan benar. Bila hadits do'if mempunyai kemungkinan benar, maka tidak selayaknya hadits do'if diabaikan begitu saja. Yang harus dilakukan adalah melakukan penelitian atau klarifikasi terhadap isi hadits tersebut.

Melakukan penelitian ulang tersebut sesuai dengan perintah Allah : "bila orang fasiq membawa kabar, maka klarifikasilah/periksalah/tabayyunlah (in ja akum fasiqun binaba in fatabayyanu / Q.S. al-hujurot : 6)

Bila demikian perintah Allah SWT, maka membuang hadits do'if begitu saja adalah pelanggaran terhadap perintah Allah SWT. Yang sesuai perintah Allah SWT adalah meneliti kebenaran isinya. Kita tidak berhenti hanya sekedar setelah meneliti sanadnya (yang meriwayatkannya) saja

Konsekuensi dari hasil penelitian adalah bisa ditemukan bahwa isi hadits tersebut benar atau salah maupun tidak bisa dipastikan benar dan salahnya. Bila ditemukan bahwa isinya benar, maka hadits do'if sekalipun layak bahkan harus dipergunakan sebagai dalil.

Bagaimana kita menemukan isi hadits tersebut benar ?

Kita bisa menemukan kebenarannya melalui ditemukannya bukti-bukti penguat isi hadits tersebut pada Al-Quran, hadits-hadits yang lain maupun kenyataan dalam kehidupan.

Dengan demikian, kita perlu berhati-hati sehingga tidak mengabaikan begitu saja hadits do'if. Jangan sampai kita masuk kepada kategori beriman kepada sebagian dan ingkar terhadap sebagian, karena kita mengingkari kebenaran hanya karena itu diungkapkan dalam hadist yang sanadnya dipandang do'if, padahal isinya benar.

wallohu a'lam.

Selengkapnya...

Senin, 20 Desember 2010

JALAN LURUS BUKAN HANYA JALAN PARA NABI

Setiap hari kaum muslimin memohon ditunjukkan ke jalan yang lurus, paling tidak 17 kali. Setiap raka'at shalat akan dibaca "ihdinas sirotol mustaqim".

Mengapa jalan lurus selalu diminta ? Apa jalan lurus itu ?

Jalan lurus adalah jalan orang-orang yang mendapat nikmat dari Allah, bukan jalan orang yang dimurkai dan bukan jalan orang yang sesat. Dalam Al-Fatihah diungkapkan, "Sirotollazina an'amta 'alaihim goiril magdubi 'alaihim walad dollin".

Lalu siapa orang yang memperoleh nikmat Allah itu ?

Surat An-Nisa ayat 69 menjelaskan bahwa yang memperoleh nikmat Allah adalah :
  • Para nabi
  • Para siddiq
  • Para syuhada
  • Para solih
Bila penjelasan di surat an-nisa ini dipadukan dengan surat al-fatihah, maka ditemukan bahwa jalan yang lurus (assirot almustaqim) adalah jalannya empat kelompok tersebut.

Fenomena yang muncul adalah ternyata Allah tidak mencukupkan hanya mengungkapkan jalannya para nabi sebagai satu-satunya jalan yang lurus. Allah melanjutkan dengan mengesahkan jalan lain yang juga termasuk jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang siddiq, syuhada dan solih.

Dalam makna ini, kita menemukan isyarat bahwa ada yang tidak dilakukan para nabi, namun diterima oleh Allah sebagai bagian dari jalan yang lurus. Apa itu ? Yaitu pendapat dan amal orang-orang siddiq, syuhada dan solih.

Bila jalan mereka termasuk jalan yang lurus, maka sah untuk mengikuti mereka dalam beragama mencari rido Allah SWT, seperti mengikuti jalan para Nabi.

Selain itu, dalam pengungkapan kata siddiq, syuhada dan solih, Allah SWT menggunakan kalimat jama'. Jama' berarti menunjukkan banyak, yaitu tiga atau lebih dari tiga.

Kalimat jama' tersebut memberikan isyarat bahwa ada banyak jalan yang sama-sama diterima dan diridoi oleh Allah SWT. Artinya, berbeda pendapat dan amal dibenarkan dan dimungkinkan perbedaan itu tetap sama-sama berada dalam jalan yang lurus.

Dalam makna ini, kita menemukan dalil yang membenarkan adanya mazhab dan perbedaannya. Mengapa mengikuti mazhab syafi'i ? Karena imam syafi'i termasuk di antara orang-orang siddiq, syuhada dan solih. Seperti itu pula mengapa mengiktui mazhab hanafi, hambali maupun maliki.

Demikian pula, dalil tersebut membenarkan adanya berbagai toriqoh yang boleh diikuti. Mengapa mengikuti toriqoh qodiriyyah ? Karena Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani termasuk di antara para siddiq, syuhada dan solih. Demikian pula dengan toriqoh-toriqoh yang lain.


Selengkapnya...

Sabtu, 13 November 2010

RASULULLOH TIDAK MENGERJAKANNYA BUKANLAH DALIL

Itu bid'ah, karena Rosululloh s.a.w. tidak pernah mengerjakannya. Itu salah, karena Rosululloh s.a.w. tidak pernah melakukannya. Itu sesat, karena Rosululloh s.a.w. tidak pernah memperbuatnya.

Ungkapan-ungkapan seperti itu mungkin beberapa kali atau sering kita dengar. Tapi benarkah ungkapan seperti itu ? Atau jangan-jangan ungkapan itu salah ?

Kalimat-kalimat di atas adalah contoh penggunaan ungkapan "Rosululloh s.a.w. tidak pernah mengerjakannya" sebagai dalil untuk menunjukkan berbagai hal yang terlarang. Dengan demikian, ungkapan tersebut seakan menjadi dalil ijmali, yaitu dalil yang berlaku umum untuk segala hal. Ungkapan tersebut tidak diungkapkan sebagi dalil tafsili (dalil yang hanya berlaku secara spesifik untuk hal tertentu saja).

Ungkapan tersebut, biasa diperkuat dengan dalil "bahwa segala sesuatu yang tidak Rosululloh s.a.w. perbuat adalah bid'ah, dan setiap bid'ah ada;ah sesat dan setiap yang sesat masuk neraka"

Benarkah demikian ?

Mari kita periksa.

Pertama dalam Al-Quran

Yang akan kita temukan dalam Al-Quran adalah "apa yang Rosululloh berikan pada kalian ambillah dan apa yang Rosululloh larang tinggalkanlah (Q.S. Al-Hasyr (59) : 7)".

Ternyata ayat Al-Quran memerintahkan meninggalkan apa yang Rosululloh s.a.w. larang, bukan yang Rosululloh s.a.w. tidak perbuat.

Kedua dalam As-Sunnah

Yang akan kita temukan dalam As-Sunnah adalah "Pertama mencari di kitabulloh. Bila tidak ada, maka langkah kedua adalah mencari pada sunnah Rosululloh. Bila pada sunnah Rosululloh s.a.w. tidak ada, maka langkah ketiga berijtihad"

As-Sunnah adalah segala ucapan, perbuatan dan sikap diam Rosululloh s.a.w. Rosululloh s.a.w. tidak mengerjakan sesuatu tidak termasuk dalam As-Sunnah.

Dan ditemukan bahwa yang tidak ada dalam As-Sunnah bukan sesat, terlarang atau bid'ah, tapi diputuskan melalui ijtihad.

Ketiga melihat kenyataan hidup

Akan kita temukan kenyataan hidup bahwa banyak hal dalam kehidupan kita yang tidak dilakukan oleh Rosululloh s.a.w. Di antara yang tidak dilakukan oleh Rosululloh s.a.w. adalah makan nasi, zakat profesi, naik mobil dan membangun menara masjid.

Bila "tidak dilakukan Rosululloh s.a.w. berarti sesat atau bid'ah atau salah" adalah dalil ijmali (berlaku umum pada berbagai hal), maka makan nasi, zakat profesi, naik mobil dan membangun menara masjid adalah sesat, bid'ah dan salah karena tidak dilakukan oleh Rosululloh s.a.w. Benarkah makan nasi haram ?

Bayangkan berapa banyak hal lain yang juga tidak dilakukan oleh Rosululloh s.a.w.

Keempat melihat kaidah usul dan kaidah fiqh

Kita akan temukan bahwa tidak melakukan sesuatu (at-tarku) tidak lah menunjukkan haram (at-tarku la yadullu 'alat tahrim), bahkan at-tarku tidaklah dipandang sebagai dalil (at-tarku laisa bidalilin).

Yang akan kita temukan sebagai petunjuk atau dalil haram adalah larangan (an-nahyu yadullu 'alat tahrim atau Al-aslu fin nahyi at-tahrim).

Dengan keempat sudut pandang tersebut, tidak ada satu pun yang mendukung bahwa "Rosululloh s.a.w. tidak melakukannya" sebagai dalil yang menunjukkan itu haram, sesat atau bid'ah". Bahkan tidak ada yang mendukung bahwa Rosululloh s.a.w. tidak melakukannya adalah sebuah dalil untuk menentukan hukum.

Dengan demikian, mengatakan sesuatu itu haram, sesat atau bid'ah dengan dalil (alasan) bahwa Rosululloh s.a.w. tidak mengerjakannya adalah tidak benar dan tidak memiliki landasan dalam agama.

hmmm....mari kita terus belajar dan merenung...

Selengkapnya...

Minggu, 22 Agustus 2010

BID'AH ATAU BUKAN


Bid'ah adalah perkara yang ditakuti oleh umat Islam. Bid'ah adalah sesuatu yang ditolak dan dipandang sesat serta diancam dengan neraka. Semua umat Islam berupaya menjauhi bid'ah. Semua umat islam berupaya menegakkan sunnah.

Namun, perbedaan pendapat tentang bid'ah tidak pernah berakhir. Umat Islam pada dasarnya saat ini terbagi menjadi dua kelompok besar dalam memahami bid'ah.
  1. Kelompok pertama pada intinya memahami bid'ah adalah segala hal yang tidak dilakukan oleh Rosululloh Muhammad s.a.w.
  2. Kelompok kedua pada intinya memahami bid'ah sebagai sesuatu yang bertentangan dengan ajaran yang disampaikan Rosululloh Muhammad s.a.w.
Kelompok pertama tidak memberi peluang kepada hal apapun yang tidak dilakukan oleh Rosululloh Muhammad s.a.w. Sedangkan kelompok kedua memberikan peluang kepada amal yang tidak dilakukan oleh Rosululloh s.a.w. namun tidak bertentangan dengan ajaran Rosululloh Muhammad s.a.w.

Menyikapi kondisi ini, seyogyanya kedua pihak mulai dengan konsistensi dirinya terhadap pendapatnya. Setelah konsisten, baru kemudian menjadikan konsistensinya itu sebagai teladan. Dengan demikian, dapat dijadikan ukuran oleh umat untuk memilih dengan baik, sebagaimana Rosululloh Muhammad s.a.w. berdakwah dengan keteladanan. Umat dapat merasakan bagaimana beragama dengan mengikuti pandangan-pandangan tersebut.

Kita ambil contoh beberapa hal yang ada dalam praktek di masyarakat :

Peringatan Maulid Nabi.
Kelompok pertama harusnya tidak melaksanakan dan mengikuti peringatan maulid nabi, karena tidak pernah dilakukan oleh Rosululloh Muhammad s.a.w. Kelompok kedua harusnya mengikuti dan melaksanakan peringatan maulid nabi, karena memandang tidak bertentangan dengan ajaran Rosululloh Muhammad s.a.w.

Peringatan isro dan mi'roj
Kelompok pertama harusnya tidak melaksanakan dan mengikuti peringatan isro dan mi'roj, karena tidak pernah dilakukan oleh Rosululloh Muhammad s.a.w. Kelompok kedua harusnya mengikuti dan melaksanakan peringatan isro dan mi'roj, karena memandang tidak bertentangan dengan ajaran Rosululloh Muhammad s.a.w.

Peringatan nuzulul quran
Kelompok pertama harusnya tidak melaksanakan dan mengikuti peringatan nuzulul quran, karena tidak pernah dilakukan oleh Rosululloh Muhammad s.a.w. Kelompok kedua harusnya mengikuti dan melaksanakan peringatan nuzulul quran, karena memandang tidak bertentangan dengan ajaran Rosululloh Muhammad s.a.w.

Perayaan menyambut tahun baru hijriyyah
Kelompok pertama harusnya tidak melaksanakan dan mengikuti perayaan menyambut tahun baru hijriyyah, karena tidak pernah dilakukan oleh Rosululloh Muhammad s.a.w. Kelompok kedua harusnya mengikuti dan melaksanakan perayaan menyambut tahun baru hijriyyah, karena memandang tidak bertentangan dengan ajaran Rosululloh Muhammad s.a.w.

Ceramah tarawih
Kelompok pertama harusnya tidak melaksanakan dan mengikuti ceramah tarawih, karena tidak pernah dilakukan oleh Rosululloh Muhammad s.a.w. Kelompok kedua harusnya mengikuti dan melaksanakan peringatan ceramah tarawih, karena memandang tidak bertentangan dengan ajaran Rosululloh Muhammad s.a.w. Ingat ceramah tarawih menambahi shalat tarawih dengan khuthbah (ceramah) sebelum shalat tarawih yang ini tidak pernah dilakukan Rosululloh Muhammad s.a.w.

Kuliah Shubuh
Kelompok pertama harusnya tidak melaksanakan dan mengikuti kuliah shubuh (tradisi ramadhan), karena tidak pernah dilakukan oleh Rosululloh Muhammad s.a.w. Kelompok kedua harusnya mengikuti dan melaksanakan kuliah shubuh, karena memandang tidak bertentangan dengan ajaran Rosululloh Muhammad s.a.w. Ingat kuliah shubuh ini pun seperti ceramah tarawih. Bedanya ceramah tarawih ditambahkan sebelum shalat, kuliah shubuh ditambahkan setelah shalat.

Kajian menjelang berbuka
Kelompok pertama harusnya tidak melaksanakan dan mengikuti kajian menjelang berbuka, karena tidak pernah dilakukan oleh Rosululloh Muhammad s.a.w. Kelompok kedua harusnya mengikuti dan melaksanakan kajian menjelang berbuka, karena memandang tidak bertentangan dengan ajaran Rosululloh Muhammad s.a.w. Ingat berbuka adalah bagian dari ibadah puasa. Membuat kajian menjelang berbuka adalah menambahi ibadah buka puasa.

Khuthbah Jum'ah, Idul Fithri, Idul Adhha, Istisqo dan Gerhana dengan selain bahasa Arab
Kelompok pertama harusnya tidak melaksanakan dan mengikuti Khuthbah Jum'ah, Idul Fithri, Idul Adhha, Istisqo dan Gerhana dengan selain bahasa Arab, karena tidak pernah dilakukan oleh Rosululloh Muhammad s.a.w. Kelompok kedua harusnya mengikuti dan melaksanakan Khuthbah Jum'ah, Idul Fithri, Idul Adhha, Istisqo dan Gerhana dengan selain bahasa Arab, karena memandang tidak bertentangan dengan ajaran Rosululloh Muhammad s.a.w. Ingat khuthbah pada shalat-shalat tersebut adalah bagian dari ritual peribadahan yang telah jelas bagaimana prakteknya Rosululloh Muhammad s.a.w. Ingat tidak sah shalat jum'ah tanpa khuthbah.

Yasinan dan Shalawatan
Kelompok pertama harusnya tidak melaksanakan dan mengikuti yasinan dan shalawatan, karena tidak pernah dilakukan oleh Rosululloh Muhammad s.a.w. Kelompok kedua harusnya mengikuti dan melaksanakan yasinan dan shalawatan, karena memandang tidak bertentangan dengan ajaran Rosululloh Muhammad s.a.w.

MABIT (malam bina iman dan taqwa)
Kelompok pertama harusnya tidak melaksanakan dan mengikuti MABIT, karena tidak pernah dilakukan oleh Rosululloh Muhammad s.a.w. Kelompok kedua harusnya mengikuti dan melaksanakan MABIT, karena memandang tidak bertentangan dengan ajaran Rosululloh Muhammad s.a.w.

Pengajian bulanan dan mingguan
Kelompok pertama harusnya tidak melaksanakan dan mengikuti pengajian bulanan dan mingguan, karena tidak pernah dilakukan oleh Rosululloh Muhammad s.a.w. Kelompok kedua harusnya mengikuti dan melaksanakan pengajian bulanan dan mingguan, karena memandang tidak bertentangan dengan ajaran Rosululloh Muhammad s.a.w. Ingat pengajian bulanan dan mingguan intinya sama dengan maulidan dan rajaban. Maulidan adalah menetapkan adanya pengajian setiap bulan maulid. Rajaban adalah menetapkan adanya pengajian setiap bulan rajab. Bulanan adalah menetapkan adanya pengajian setiap bulan. Mingguan adalah menetapkan adanya pengajian setiap minggu.

Halal bi halal
Kelompok pertama harusnya tidak melaksanakan dan mengikuti halal bi halal, karena tidak pernah dilakukan oleh Rosululloh Muhammad s.a.w. Kelompok kedua harusnya mengikuti dan melaksanakan halal bi halal, karena memandang tidak bertentangan dengan ajaran Rosululloh Muhammad s.a.w. Ingat halal bi halal dikaitkan dengan idul fitri

Mungkin sementara cukup. Bila dibutuhkan, insya Allah akan ditambahkan lagi pada kesempatan lain.

Selengkapnya...

Senin, 05 Juli 2010

FENOMENA SISI LAIN ISRO MI'ROJ


Bila ditelaah, isro dan mi'roj menunjukkan sesuatu yang mungkin akan sangat mengagetkan, karena berbeda dengan citra pemahaman yang ada secara umum.

Di seluruh dunia, kaum muslimin meyakini peristiwa isro dan mi'roj Nabi Muhammad s.a.w. Kaum muslimin meyakini dalam isro dan mi'roj tersebut, Nabi Muhammad s.a.w. bertemu dengan para Nabi terdahulu, shalat bersama para Nabi terdahulu, mendapat do'a dari para nabi terdahulu dan menerima nasehat dari para Nabi terdahulu. Bahkan perintah shalat yang lima waktu pun merupakan hasil dari diterimanya oleh Nabi Muhammad s.a.w. masukan dari Nabi Musa a.s.

Kejadian tersebut setidaknya menunjukkan :

1. Dimungkinkan adanya pertemuan mereka yang telah meninggal dunia dengan yang masih hidup. Hal ini ditunjukkan dengan pertemuan Nabi Muhammad s.a.w. dengan para nabi terdahulu yang jelas telah meninggal dunia.

2. Ada kekecualian terhadap hadits "ketika anak Adam meninggal dunia maka terputuslah amalnya, kecuali dari tiga hal.....". Ternyata ada orang yang masih dapat beramal saat telah meninggal dunia. Hal ini ditunjukkan dengan shalatnya para Nabi yang terdahulu bersama Nabi Muhammad s.a.w. Bukankah shalat adalah amal ? Demikian pula do'a dan nasehat adalah amal.

3.D imungkinkan yang masih hidup bercakap-cakap, bahkan belajar dan mendapatkan nasehat dari yang telah meninggal dunia. hal ini ditunjukkan oleh dialog Nabi Muhammad s.a.w. dengan para Nabi terdahulu yang telah meninggal dunia. Demikian pula dengan adanya nasehat dari Nabi Musa a.s. kepada Nabi Muhammad s.a.w.

Dari sisi ini, isro Mi'roj tersebut dapat menunjukkan :
1. Sahnya pemahaman yang membenarkan menghadap Nabi Muhammad s.a.w. saat beliau telah wafat dan meminta beliau mendo'akan. Bukankah itu ditunjukkan pula dilakukan oleh para Nabi yang terdahulu yang telah meninggal dunia saat bertemu dengan Nabi Muhammad s.a.w.

2. Sahnya pemahaman yang membenarkan adanya pertemuan antara yang masih hidup dan yang telah meninggal dunia. Sekaligus sahnya apa yang dikenal dengan istilah barzakhi, yaitu belajar atau mendapatkan nasehat dari mereka yang telah meninggal dunia.

Pemahaman tersebut mungkin akan dikritik dengan ungkapan "kejadian-kejadian itu adalah mukjizat khusus untuk Nabi Muhammad s.a.w. dan tidak berlaku untuk umatnya"

Kritik ini setidaknya akan mendapatkan dua jawaban :

1. Nabi Muhammad adalah contoh teladan. Tidaklah menjadi contoh teladan, apabila apa yang beliau lakukan tidak bisa dilakukan oleh umatnya, kecuali bila memang ada dalil yang mengkhususkan bahwa itu hanya berlaku untuk Nabi Muhammad s.a.w.

2. Pada surat Al-isro ayat pertama, Allah sampaikan bahwa Nabi Muhammad s.a.w. mengalami kejadian-kejadian tersebut saat dalam kedudukannya sebagai 'abdi / hamba (subhanallazi asro bi'abdihi...../maha suci Allah yang menjalankan hamba-Nya.....), bukan Nabi dan bukan Rosul. Kedudukan sebagai hamba inilah kedudukan yang sama antara Nabi Muhammad s.a.w. dengan manusia yang lain, walau dengan pencapaian kesempurnaan kehambaan yang berbeda.

Ayat tersebut tidak menunjukkan bahwa hal tersebut terjadi pada Nabi atau Rosul yang jelas tidak bisa dicapai oleh manusia yang lain. Hal yang berkaitan dengan Nabi dan atau Rosul inilah yang tidak bisa diperoleh manusia yang lain, karena tidak ada manusia lain yang menjadi Nabi dan atau Rosul setelah Nabi Muhammad s.a.w.

Nampaknya banyak yang harus kita pelajari dan kaji ulang dalam agama ini. Banyak hal yang belum kita ketahui dan pahami dengan menyeluruh. Yuk mari mengaji lagi.....

Wallohu a'lam

Selengkapnya...